Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

July 14, 2013

[Renungan] Saat yang paling sempurna


Mungkin ada sesuatu yang selalu Anda ingin kerjakan. Sebuah hasrat untuk mengerjakan sesuatu yang Anda cita-citakan. Mengapa Anda tidak coba mengerjakannya hari ini? Hari ini adalah saat yang paling sempurna untuk memulainya. Dari semua hari yang tersedia, tidak ada yang lebih tepat daripada hari ini. 

Anda menginginkan kesempurnaan? Berangkatlah dari yang tidak sempurna terlebih dahulu. Perbaiki satu bagian demi satu bagian, maka apa yang Anda inginkan akan terwujud dengan usaha yang sunguh-sungguh. Tidak ada karya besar yang muncul dengan instan tetapi butuh proses. 

Mengambil langkah pertama tidaklah sulit. Semuanya ada di dalam jangkauan Anda, termasuk hari ini. Jangan suka menunggu dan menunda, yang terpenting adalah Anda memulainya sekarang, karena Anda adalah pemilik hari ini.


[Renungan] Growth Mindset


Para profesional di bidang keuangan dan penjualan sebenarnya harus bersyukur karena tuntutan jabatan telah mendorong mereka untuk selalu berfokus pada pertumbuhan. Ekonomi tidak tumbuh, institusi macet atau penjualan tidak tumbuh menjadi pertanda ada sesuatu yang salah pada upaya kita. Tanpa disadari, situasi ini membuat mereka terbiasa melihat fenomena pertumbuhan sebagai tugas yang sekaligus menjadi keharusan, seperti halnya kita melihat pertumbuhan tanaman, yang berusaha mengejar matahari, bahkan mengalahkan gravitasi dan memastikan diri untuk tumbuh terus. Jadi, bila pada sebagian orang ketidakpastian, kemacetan, kegamangan, kebohongan yang marak terjadi akhir-ahir ini bisa membuat orang merasa ‘stuck’ atau ‘no way out’, bagi orang-orang yang berobsesi untuk terus tumbuh, penghalang itu seperti tidak ada. Inilah peran “mindset” yang tumbuh dalam diri kita.

Seorang ahli mengatakan: ”Mindset is everything.”. Ada orang yang mengembangkan “fixed mindset”, yaitu bagaikan mengukir kualitas diri kita dan orang lain di sebuah batu. Melihat situasi sebagai hal yang tetap, kaku, tidak pernah berubah. Sekali pemalas tetap pemalas, sekali pecundang tetap pecundang. Sebaliknya, orang yang mengembangkan “growth-mindset”, meyakini bahwa upaya kita bagaikan menanam benih, pasti akan tumbuh dan menghasilkan hal yang positif. Kualitas-kualitas seperti kepandaian dan pengetahuan adalah modal dan titik awal, sementara sukses akan muncul setelah berbagai upaya untuk terus didorong, dijaga, diperbaiki dengan tekun. Contoh cara pikir orang dengan fixed mindset adalah mereka melihat ‘jembatan sudah dibangun’, titik. Mereka akan sangat terkejut dan merasa dunia runtuh, bila tiba-tiba melihat ada baut pengikat jembatan hilang dan terlepas, apalagi kalau tiba-tiba ambruk. Sebaliknya, pada orang yang bermindset ‘growth’, maka ketika jembatan selesai dibangun, cerita barunya dimulai. Hal yang dipikirkan adalah, bagaimana menjaga agar pemakai jembatan menikmati kelancaran? Bagaimana agar ‘maintenance’ irit? Kapan dilakukan pengecekan kekuatan jembatan? Bagaimana supaya baut tetap kencang? Dan, masih banyak hal yang perlu dikembangkan dan diantisipasi supaya “the show go on”. Sungguh dua cara pikir yang berbeda dengan dampak yang juga bertolak belakang, bukan? Jadi, masihkah kita terus bersungut-sungut dan membiarkan diri kita mengembangkan “fixed mindset” dan bukan “growth mindset”?.

Bugarkan mindset
Para ahli yang berusaha mengenali aspek sukses yang ada dalam diri John R Simplot, pen-supply kentang ke Mc. Donald’s yang lari dari rumahnya ketika berusia 14 tahun, dan mahasiswa drop out dari Harvard, Bill Gates, yang melakukan ‘startup’, ternyata hanya menemukan bahwa keduanya mempunyai satu kesamaan, yaitu mereka tidak pernah membayangkan kegagalan, yang ada hanya: “maju terus”. Orang bermindset “growth” bukannya tidak pernah gagal, tetapi cara memandang kegagalannya yang berbeda. Mereka sangat berfokus pada tujuan akhirnya, sehingga kegagalan hanya dilihat sebagai penghambat sementara, yang kalau digarap dan diperbaiki bisa dilewati bahkan menjadi pelajaran.

Dalam situasi hukum yang tak jelas, yang baik dan buruk tersamar, bencana alam yang mengancam, memang sulit bagi kita untuk tidak sesekali diselimuti oleh mindset yang negatif alias fixed. Ada pemimpin yang bermindset ‘fixed’ dan senang dikelilingi oleh orang-orang yang setuju dan mendukungnya. Padahal, bayangkan betapa tidak kreatifnya keputusan-keputusan yang dibuat tanpa beda pendapat. Kabar gembiranya, kita sebenarnya bisa memutarbalik ‘mindset’ kita. Problem mindset ini, karena adanya di pikiran, juga bisa dengan mudah kita belokkan. Anak-anak yang diyakinkan bahwa mereka bisa mengembangkan kapasitasnya, ternyata lebih berprestasi daripada anak-anak yang sering hanya dinilai pintar. Anak-anak yang ketika mengerjakan “puzzle” selalu mencoba cara yang sama, bisa dipengaruhi untuk mencari jalan lain. Mahasiswa yang ‘tidak berani’ mempelajari bahawa asing baru, bisa diyakinkan bahwa ada saja mahasiswa lain yang berani belajar bahasa Korea, misalnya dari titik nol.

Hanya dengan ‘growth mindset” kita bisa mengembangkan sumber daya manusia di tempat kita bekerja. Kita tidak bisa terpaku pada hasil psikotesnya pada waktu direkrut, namun kita perlu meyakini bahwa perekrutannya adalah awal dari pertumbuhan karirnya. Dengan demikian goal atau target yang tinggi akan dipandangnya sebagai sasaran demi pertumbuhannya dan bukan sebagai momok yang menakutkan.

Mengindrai Mindset Sendiri
Banyak orang tidak menyadari mindset-nya sendiri. Bahkan, banyak orang membantah bila diingatkan bahwa isi pikirannya menghambat kesuksesannya. Padahal, semakin orang tidak menyadari bahwa pendekatan dan upayanya dipengaruhi jalan pikirannya, semakin ia tidak bisa mengkontrol ‘mindset’-nya. Bila kita mencoba hening, sebenarnya isi pikiran dan katahati kita bisa kita dengarkan. Saat menghadapi tantangan, apakah kita berpikir “Jangan-jangan gagal nih”, atau “Pasti gagal...pasti gagal”, atau,”Dasar.....”. Bila ‘self talk’ ini kita sadari, kita bisa menghambatnya dan bahkan mengatakan pada diri sendiri “Ini belum terlambat.., kamu bisa”.

Orang dengan mindset ‘fixed’ terkadang sampai percaya bahwa mereka tidak punya pilihan. Padahal, sekecil apapun dampak dari tindakan, jarang sekali orang yang betul-betul dihadapkan pada tidak adanya pilihan. Growth mindset akan memerangi ketidakyakinan dan pesimisme, sebagaimana kita yakin akan terbitnya matahari esok pagi. Bila kita peka terhadap ‘fixed mindset’ kita, kita bisa mendorong diri untuk berbuat dan berkembang. Kesulitan harus kita rangkul sepenuh hati. Kegagalan perlu diresapi sambil kita mendengarkan kritik, sehingga kita pun kuat untuk bergerak maju. Ingat, “Basketball wasn’t easy for Michael Jordan and science wasn’t easy for Thomas Edison.”.


June 30, 2013

[Renungan] Mempengaruhi Secara Positif


Mempengaruhi orang lain merupakan keterampilan yang berhubungan dengan keterampilan kepemimpinan. Sebagai pemimpin kita pelu menjadi seorang teladan positif sehingga dapat mempengaruhi orang lain secara positif. Dengan demikian, kita akan dapat menciptakan lingkungan yang positif dalam tim kita sehingga mampu mencapai sasaran bersama.

Berikut adalah beberapa tips agar kita dapat mempengaruhi orang lain secara positif.

Saling Menghormati
Kita dapat memberi inspirasi positif saat kita ingin mempengaruhi seseorang dengan memperlakukan mereka secara hormat. Untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain, kita perlu terlebih dahulu memeberikan rasa hormat pada mereka. Menghormati orang lain akan menjadi landasan terciptanya hubungan yang sehat.

Perlakuan orang lain secara adil dan konsisten apapun hubungan formal kita dengan mereka. Jangan membeda-bedakan seseorang karena status sosial atau professional mereka. Perlakukan semua orang secara hormat, siapapun mereka.

Saling Percaya
Kita perlu membangun rasa percaya dengan orang lain, terutama jika kita ingin mempengaruhinya secara positif. Membantu, membina dan melakukan pendekatan atas dasar niat tulus akan membantu terciptanya rasa saling percaya dengan orang lain. Dengan menunjukkan bahwa kita peduli dan mendahulukan kepentingan mereka, mereka akan terdorong untuk lebih terbuka dan mempercayai kita.

Teladan
Jangan sampai kita dicap sebagai “no action talk only”. Tunjukkan bahwa kita menerapkan akan yang kita katakan. Misalnya, jika kita ingin agar orang lain bersikap disiplin, kita sendiri perlu menunjukkan bahwa kita juga menerapkan kedisiplinan yang sama yang kita tuntut dari orang lain.

Sikap Mental Positif
Hadapi segala tantangan dan konflik dengan sikap mental positif. Kelolalah konflik dengan perilaku netral dan non emosional. Analisislah situasi dan temukan kesepakatan untuk bersama menyelesaikan secara tuntas.

Melibatkan
Orang akan merasa dihargai jika dilibatkan dalam proses penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Mintalah pendapat orang lain dan dengarkan apa yang mereka sampaikan. Perhatikan bahwa mendengar berbeda dengan mendengarkan. Kita perlu benar-benar mendengarkan apa yang mereka sampaikan dan pertimbangkanlah dalam proses penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan kita.

Umpan Balik Positif
Budaya kita cenderung kurang mementingkan apresiasi positif terhadap keberhasilan orang lain. Banyak orang tua menganggap bahwa jika anaknya mencapai suatu keberhasilan, itu sudah menjadi yang seharusnya sehingga tidak perlu mendapatkan pujian. Setiap orang senang dan menghargai jika mendapat apresiasi positif dari orang lain. Mengapresiasi seseorang dapat meningkatkan motivasi dan perilaku positif mereka.

[Renungan] Interpersonal Skill dalam Lingkungan Kerja


Dalam bekerja, kita senantiasa perlu berhubungan dengan orang lain termasuk klien, rekan kerja, atasan, bawahan, dan supplier, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterampilan interpersonal yang baik akan dapat membedakan diri kita dari orang lain.

Sebenarnya interpersonal skill merupakan paduan dari berbagai keterampilan lainnya dan berikut adalah beberapa diantaranya :

Komunikasi Efektif
Kita perlu mampu berkomunikasi secara efektif baik secara tertulis, lisan, maupun non verbal. Agar dapat memotivasi produktivitas tim, mengelola konflik dan mengekspresikan diri secara jelas pada orang lain, kita perlu meningkatkan kemampuan untuk mengkomunikasikan maksud secara jelas dan di pahami orang lain.

Banyak orang belum menyadari bahwa komunikasi efektif juga mencakup keterampilan mendengarkan secara empatik sebelum mengutarakan pemikiran pribadi. Inilah mengapa banyak orang bijak mengatakan bahwa Yang Maha Kuasa menganugerahkan manusia satu mulut dan dua telinga.

Sikap Mental Positif
Sikap mental positif tidak hanya mencakup menahan diri dari berangkat ke kantor dengan murung atau mengekpresikan perspektif negatif. Sikap mental positif mencakup kemampuan untuk menciptakan suasana yang positif bagi diri sendiri dan orang lain. Secara konsisten, kita perlu memproyeksikan perilaku dan energi positif baik dalam pikiran, tindakan dan perkataan.

Melibatkan
Kita juga perlu menunjukan bahwa kita menganggap kontribusi dan masukan mereka penting bagi kita. Libatkan orang lain dengan meminta pendapat. Hal ini dapat meningkatkan semangat kerja tim dalam unit dan menunjukan keterbukaan. Tentunya kita juga perlu memotivasi aktivitas sosial dalam tim diluar lingkungan kerja dan memperlakukan semua orang secara adil tanpa anak emas.

Perhatian
Menanyakan orang lain tentang keluarga, hobi, dan minatnya secara tulus akan memberikan kesan bahwa kita perhatian pada diri mereka. Ini perlu kita lakukan baik untuk tingkat kehidupan pribadi maupun profesional.

Dalam kehidupan profesional, kita dapat melakukannya dengan senantiasa memotivasi dengan memberi umpan balik positif maupun negatif. Kita dapat pula memberikan tantangan baru pada anak buah yang mulai bosan dengan pekerjaan sehari-hari.

Sedangkan dalam kehidupan pribadi, kita perlu turut berempati dengan hari-hari penting mereka seperti ulang tahun, pernikahan, kelahiran bahkan kematian orang yang penting bagi mereka. Hal ini juga mencakup hal-hal sederhana seperti baju baru atau rambut baru. Kita perlu menunjukan bahwa kita peduli dengan kebahagiaan mereka dengan memberikan perhatian atas apa yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Resolusi Konflik
Konflik di tempat kerja adalah normal dan tidak terhindarkan. Maka, kita perlu selalu menghadapi konflik secara tenang dan bijaksana agar dapat mengelola dan memanfaatkan konflik untuk pengembangan diri dan tim. Banyak orang belum menyadari bahwa konflik juga dapat membawa dampak positif.

Mari kita mengembangkan Interpersonal Skill kita............


[Renungan] BUATLAH DIRIMU “HAPPY” DALAM BEKERJA


Kadang kita berfikir mengenai satu hal, yaitu bertahan hidup. Apa yang membuat kita bertahan hidup? Banyak pendapat mengatakan bahwa bertahan hidup itu karena bekerja. Saya tidak tahu, apakah Anda setuju dengan yang saya sampaikan ini. Mungkin Anda punya pAndangan lain. It's Ok tidak apa-apa. Artinya setiap orang mempunyai sudut pAndang dalam menikmati sebuah pekerjaan. Apalagi memang pekerjaan itu membuat kita bertahan hidup. Nah apakah hanya sebatas itu? Banyak hal sebenarnya kita dapatkan sesuatu dari pekerjaan itu. Dan Anda sendiri yang bisa merasakannya.

Apakah kita pernah berfikir pekerjaan itu membuat Anda “happy”? Sekarang ini Anda memang bekerja dari pagi sampai malam. Mungkin secara khusus bagi Anda yang bekerja di jakarta, berangkat jam 5 pagi pulang larut malam. Sungguh suatu perjuangan bukan? Ya saya yakin Anda berjuang untuk kehidupan. Tetapi apakah Anda menikmati apa yang Anda lakukan dan kerjakan? Ukuran kebahagiaan memang di rasakan oleh setiap orang. Tetapi apa yang Anda cari dari semua itu? Penghasilan atau apa? Sudah pasti penghasilan dan kita semua tidak memungkiri itu. Memang kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Karena dengan penghasilan kita dapat melanjutkan hidup bukan?

Terus bagaimana dengan kebahagiaan dalam bekerja? Ada memang, kebahagiaan dapat di rasakan dari besar kecilnya penghasilan. 5 atau sampai 25 juta per bulan mungkin bisa membuat Anda bahagia. Dengan bergelimangnya gaji, kebebasan Anda untuk membeli atau memuaskan sisi konsumtif Anda dapat terwujud. Itu semua kembali pada pilihan.

Nah ada beberapa pendapat yang perlu kita cermati, penghasilan memang perlu, bahkan wajib sebagai buah penghargaan selama setahun. Ada juga yang menilai bahwa, selain penghasilan itu sendiri kita junga harus ingat, bahwa kita adalah pribadi yang bekerja. Entah itu di nikmati sebagai kebahagiaan atau bukan.

Seberapa penting menumbuhkan kebahagiaan dalam bekerja?
Penting tidak penting bukan urusan perusahaan dimana Anda bekerja. Perusahaan mungkin hanya memberi fasilitas, sarana bahkan gaji dll.

Kebahagiaan adalah urusan Anda.

Anda yang mampu menumbuhkan kebahagiaan dalam bekerja.

Bekerja adalah sebuah amanah bukan? Bekerja adalah sebuah bentuk tanggung jawab bukan? Apakah itu semua membebani Anda?

Karena saat Anda merasa terbebani dalam bekerja,saat itulah Anda tidak menemukan kebahagiaan.

Anda akan susah senyum, wajah tegang, gampang marah, gelisah, merasa di tuntut perusahaan dan masih banyak lagi. Kemudian bagaimana mengatasi hal itu? Anda bisa merubah mindset, cara berfikir dalam melihat sebuah pekerjaan.

Mungkin kita perlu melihat bekerja tidak dalam arti sempit, artinya kita hendaknya melihat “big picture” dari suatu pekerjaan. Yaitu karya, bagaimana karya memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap orang lain. Sehingga apa yang kita perbuat bermanfaat buat tujuan yang lebih luas lagi.

Disaat Anda sudah menemukannya, Anda akan merasakan kebahagiaan dalam bekerja. Maka dengan menumbukan “happy” di dalam bekerja Anda akan selalu tersenyum saat masuk kantor dan meninggalkan kantor untuk pulang bertemu anak atau istri /suami.

Belajarlah mencintai pekerjaan Anda saat ini serta temukanlah passion di dalam bekerja, karena pekerjaan Anda sekarang ini adalah misi hidup.


[Renungan] Kesan Positif dan Citra Diri


Pernahkan anda mendengar slogan iklan yang berbunyi, ”kesan pertama begitu menggoda?”. Tanpa menyebutkan iklan apakah itu, ada point penting yang bisa kita ambil dari iklan tersebut bahwa kesan atu citra diri yang positif merupakan sesuatu yang sangat penting, bukan hanya kesan pertama saja tetapi kesan pada awal dan selama lamanya baik terhadap diri anda. Persis seperti pepatah yang berbunyi “Harimau mati, meninggalkan belang – gajah mati, meninggalkan gading begitu pula manusia mati akan mengharapkan peninggalan berupa citra positif”.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara untuk mendapatkan kesan yang baik tentang diri anda dari orang orang di lingkungan sekitar anda??. Kesan merupakan suatu penilaian diri yang ditujukan kepada seseorang, baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang tertanan di dalam pikiran sadar dan bawah sadar orang yang menilainya akibat pengaruh sikap, perkataan orang yang bersangkutan ataupun dapat terjadi karena pengaruh orang lain, lingkungan sekitar ataupun pengalaman masa lalu dari orang yang memberikan penilaian.

Dari definisi tersebut, ada beberapa point penting yang dapat kita ambil untuk membangun citra diri yang positif namun perlu digaris bawahi bahwa hal – hal berikut haruslah dilakukan dengan tulus dan pikiran yang positif karena jika hanya dilakukan dengan kepura- puraan, maka niscaya anda akan tersiksa sendiri dalam melakukan hal tersebut dan lambat laun kepura-puraan anda akan terbuka. Dan tentunya citra diri terhadap diri anda pun tak akan mendapatkan point positif dari lingkungan anda.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan kesan positif dari lingkungan, antara lain :

<< Kejujuran >>
Kejujuran merupakan sebuah mata uang yang berlaku dimana saja dan kapan saja. Melakukan kejujuran layaknya seperti sebuah pertempuran besar dalam diri sendiri. Kadangkala kita mengalami kesulitan untuk berkata dan bertingkahlaku jujur, ketakutan kita berbuat salah, kekhawatiran kita dimarahi orangtua atau atasan atau orang lain, ketidakinginan kita kehilangan respon positif dari orang lain karena kesalahan kita, merupakan beberapa alasan yang membuat kita tidak ingin melakukan kejujuran. Padahal, dengan kejujuran yang kita tampilkan, orang lain akan mampu melihat diri kita lebih lengkap sehingga dapat memaklumi kesalahan dan kita dapat diposisikan pada tempat atau tugas yang sesuai dengan potensi yang kita miliki dan kita dapat merasakan kenyamanan dalam beraktifitas.

<< Pikiran positif >>
Pikiran merupakan awal dari segala tindakan dan perbuatan yang menuju ke suatu hasil atas setiap pekerjaan. Memiliki sebuah tingkah laku dan perkataan positif kadang belum tentu diikuti dengan sebuah pemikiran yang positif juga, padahal pemikiran positif sangat mempengaruhi dan menentukan tindakan dan perkataan positif kita agar dapat lebih tulus kita berikan pada orang lain. Orang yang selalu berpikiran positif akan memiliki talenta yang luar biasa dimata orang lain, karena orang lain tidak ragu lagi dalam berkomunikasi dengan kita karena akan selalu diterima dan ditanggapi secara positif.

<< Taat beribadah >>
Ketaatan beribadah ini bukan hanya kerajinan kita pergi ke rumah ibadah, kekhusyukan kita berdo’a, seringnya kita membaca kitab suci, tetapi lebih kepada implementasi ibadah kita dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang taat beribadah dengan segenap perasaan dan keikhlasan, akan meresapi makna ibadah dan mampu mengaplikasikan segala sesuatu yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ia akan mendapatkan sebuah penilaian yang positif karena ketaatan ibadahnya mampu diselaraskan dengan sikap, perkataan dan perbuatan sehari-hari.

<< Menghargai orang lain >>
Hargailah orang lain seperti layaknya dirimu menghargai diri sendiri karena pada dasarnya seluruh manusia didunia ini memiliki derajat dan kedudukan yang sama. Yang membedakan manusia dimuka bumi ini adalah kemampuan masing-masing orang dalam memanfaatkan potensi diri yang mereka miliki. Banyak orang yang mampu memanfaatkan potensi diri sehingga mampu meraih kesuksesan dalam karir dan kehidupan, juga tidak sedikit orang yang selalu mengantungkan hidupnya pada belas kasihan orang lain. Kita yang merasa memiliki kelebihan seyogyanya mampu menghargai sesama yang lebih sedikit kepemilikannya dibandingkan kita.

<< Bekerja keras, penuh semangat dan tulus >>
Bekerja keras dan penuh semangat merupakan kunci pokok menuju kesuksesan. Orang yang bekerja dengan penuh semangat bagaikan magnet yang menarik orang orang disekitarnya untuk ikut serta bekerja keras. Nilai yang akan kita hasilkanpun akan sangat memiliki arti bagi kehidupan kita dan orang lain bila dibarengi dengan semangat yang menyala-nyala akan memberikan aura positif bagi rekan kita untuk melakukan tindakan yang sama, bekerjakeras dengan penuh semangat. Ketulusan yang mengiringi kerjakeras dan semangat kita akan melahirkan sebuah hasil kerja yang sempurna, karena seluruh potensi diri kita libatkan untuk menghasilkan aktifitas yang terbaik untuk diri kita, orang lain, bangsa dan negara. Kerjakeras, semangat dan ketulusan akan membuat diri kita akan selalu digunakan oleh orang lain dan sebuah jaminan akan hasil kerja yang terbaik.


[Renungan] Jangan Tergesa-gesa Jika Tidak Ingin Salah Langkah

“Orang yang tergesa-gesa akan salah langkah”
 
Suatu hari, seorang pemuda hendak menimba ilmu bela diri kepada seorang Guru Kung Fu. Sang Guru pun menerimanya sebagai murid dengan beberapa syarat. “Setiap pagi engkau harus menimba air dari sungai lalu mengangkatnya ke rumahku yang letaknya di atas bukit.”

Sang pemuda menyetujuinya. Demikianlah, ia melakukan tugas tersebut setiap hari. Ia mengambil air dari sungai dan membawanya dengan dua buah ember. Karena bak air di rumah Sang Guru begitu besar, si pemuda harus bolak-balik, naik turun bukit, sampai beberapa kali.

Tak terasa tiga bulan sudah berlalu. Si pemuda mulai gelisah. “mengapa Guru belum juga mengajariku ilmu bela diri. Jangankan jurus-jurus jitu, dasar-dasarnya saja belum pernah dia ajarkan. Masa kerjaku hanya mengangkat air. Sungguh pekerjaan yang tidak berguna.”

Kemudian ia memutuskan untuk mendatangi Gurunya. “Guru, aku sudah mulai lelah dengan tugas yang kau berikan. Setiap hari aku harus bangun pagi-pagi menimba air dan baru istirahat ketika senja mulai tiba. Kapan Guru akan mengajariku ilmu pamungkas? Kalau begini terus, lebih baik aku berhenti saja!” katanya sedikit marah.

Sang Guru diam sejenak lalu mengajaknya pergi ke kebun belakang. “Kamu lihat tanaman bambu dan pakis itu?” katanya sambil menunjuk tanaman yang ada di depannya. Si pemuda mengangguk

“Tanaman bambu dan pakis itu aku tanam dalam waktu yang bersamaan. Ketika pertama kali menanamnya, aku merawat benih-benih itu dengan seksama. Kemudian, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat, warna hijaunya yang menawan menutupi tanah. Tidak ada yang terjadi pada benih bambu, tetapi aku tidak berhenti merawatnya. Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak terjadi apa-apa pada benih bambu. Aku tetap tidak menyerah. Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu, tetapi aku terus saja merawatnya, begitu juga dengan tahun keempat. Lalu pada tahun kelima sebuah tunas kecil muncul dari dalam tanah. Dibandingkan dengan pakis, tunas itu kelihatan begitu kecil dan tampak tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh pesat dan tingginya mencapai lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuatnya kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan.”

Sama halnya dengan kita, Sang Khalik tidak akan memberikan ciptaan-Nya tantangan yang tidak bisa kita hadapi. Dari semua pergumulan hidup, entah masalah di tempat kerja, rumah tangga, pertemanan yang tak kunjung berakhir, sebenarnya kita sedang menumbuhkan akar-akar kita.

Mungkin hari-hari yang kita jalani tampak tidak bermakna tanpa perubahan yang berarti seperti yang dialami oleh tanaman bambu. Namun, sebenarnya melalui pengalaman dan perjalanan hidup yang kita lalui, kita sedang melatih diri membangun karakter dan fondasi hidup yang kokoh. Mungkin saat ini kita belum melihat apa-apa. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi alam semesta ini tidak pernah menyerah pada kita, sama halnya seperti Guru Kung Fu dalam cerita di atas. Dia terus menunggu, “merawat”, “memupuk”, dan “menyiram” setiap hari. Percayalah, suatu hari nanti bahkan beberapa tahun ke depan, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang unggul bahkan pertumbuhan kita akan melebihi orang-orang biasa lainnya.

Your time is come! Yakinlah bahwa jika waktunya tiba, kita akan tumbuh sangat tinggi seperti tanaman bambu tadi. Sampai seberapa tinggi? itu semua bergantung pada pribadi kita. Karena itu, jangan pernah menyerah dan putus asa dengan keadaan kita. Jika kita gagal tujuh kali, bangkitlah untuk yang kedelapan kali agar kita pun dapat menikmati jerih lelah kita selama ini. Anda pasti bisa! Berjuanglah !!

[Renungan] Fokus Pada Tujuan


Apakah kita telah puas dengan kondisi saat ini, ataukah masih ada keinginan untuk terus menggapai hal-hal baru, yang selama ini belum kita dapatkan ?

Dalam proses kita untuk mencapai tujuan itu, ada rintangan yang seringkali menghambat langkah kita sesaat. Saat kita bisa menyelesaikan rintangan itu, akan membuat langkah kita ke depan menjadi semakin kuat dan mantap. Tapi kadang-kadang, seringkali tanpa sadar, saat kita bisa menyelesaikan suatu masalah, kita merasa sudah puas dengan kondisi itu, dan langkah kita terhenti disana.

Kita seolah sudah lupa, bahwa tujuan utama kita sebenarnya belum tercapai. Ibaratnya, saat kita bersekolah, kita mendapat nilai sepuluh dalam sebuah test harian. Dan kita sudah cukup puas dengan nilai itu, padahal ujian-ujian itu tadi hanyalah proses-proses sementara, karena bukankah tujuan utama dalam bersekolah adalah naik kelas, dan lulus ? Kesenangan-kesenangan kecil, tentu perlu juga dirayakan, karena bisa memberikan kebahagiaan, kebanggaan dan kesenangan sementara. Tapi tentu kita tidak boleh terlena di dalamnya lalu berhenti disana. Setelah kesenangan itu selesai dirayakan, kita harus kembali bekerja keras pada jalur utama yang kita tuju. Orang-orang yang sukses di dunia ini, mereka bahkan berani menunda kenikmatan kecil mereka, demi sebuah tujuan utama yang lebih besar.

Sebuah kisah nyata yang tepat bagaimana kita menunda kesenangan kecil demi mendapatkan kesuksesan yang lebih besar, adalah Sylvester Stallone. Dia memang kini salah satu aktor termahal di Hollywood, tapi tahukah anda bagaimana dia memulai karirnya ? Stallone lahir dari sebuah keluarga miskin di Amerika. Walau demikian, latar belakang keluarga tidak menghalanginya untuk bermimpi menjadi seorang bintang besar. Saat remaja, dia sudah sering mencoba casting di beberapa film murahan, namun itupun tidak pernah berhasil. Suatu saat, Stallone terinspirasi pada sebuah pertandingan tinju, yang membuatnya menulis tentang manuscipt film olahraga tinju, “Rocky”.

Setelah selesai, Stallone mencoba menawarkan skrip-nya kepada berbagai perusahaan film, tapi tidak ada yang mau membelinya, karena pada saat itu memang film dengan latar belakang tinju tidak laku di pasaran. Sampai akhirnya, ada sebuah perusahaan yang mau menawar harga naskah film tersebut sebesar 75.000 dollar, sejumlah uang yang nilainya puluhan kali lipat dari uang yang pernah dimiliki Stallone.

Saat itu, ada kebimbangan di dalam hatinya. Uang itu, cukup untuk membuatnya hidup lebih layak dan makmur. Tapi di sisi lain, Stallone ingin menjadi seorang bintang, seorang aktor terkenal, bukan seorang penulis naskah film. Jadi Stallone mencoba menawarkan kepada perusahaan film tersebut, agar dia yang menjadi aktor utamanya. Mereka menolak, karena mereka sudah memilih seorang aktor yang sudah berpengalaman untuk film tersebut, dibanding Stallone yang tidak punya latar belakang dan pengalaman di film. Negosiasi menjadi alot, karena Stallone menolak menjual naskah tersebut jika bukan dia yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan saat harga naskah itu meningkat tiga kali lipat, dan terus meningkat hingga satu juta dollar, Stallone tetap menolaknya. Walau ia miskin dan lapar, tapi dia berani menolak uang satu juta dollar, hanya karena dia sudah punya impian yang kuat, bahwa dengan menjadi aktor, dia bisa memperoleh uang jauh lebih banyak dari uang satu juta dollar.

Akhirnya, perusahaan film itu menyerah juga, dan mereka mengijinkan Stallone menjadi pemeran utama, dengan syarat naskah itu dijual hanya dengan harga 35.000 dollar, serta Stallone hanya akan mendapat bayaran sebagai aktor sejumlah persentase tertentu jika film itu cukup laku di pasaran. Sebuah pilihan berisiko tinggi diambil oleh Stallone. Mengorbankan uang 75.000 dollar, dan hanya mendapatkan 35.000 dollar plus tambahan lagi beberapa ribu dollar jika film itu laris. Semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa keputusan itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil Stallone. Tapi Stallone tidak menggubris itu semua, karena di hatinya dia tahu, bahwa yang dia lakukan ini hanyalah menunda kesenangan sesaat, untuk mendapatkan kesenangan lain yang lebih besar.

Pada waktu film Rocky diluncurkan, bukan saja film itu menjadi laris, tapi bahkan menjadi box office di seluruh dunia, dengan total penjualan bersih menjadi 171 juta dollar, meraih 10 nominasi untuk academy awards, serta mendapatkan satu piala Oscar. Secara spontan, Stallone langsung naik daun menjadi aktor kelas atas Hollywood, dan tawaran main film kelas satupun mulai berdatangan ke dirinya. Apa yang dialami oleh Sylvester Stallone adalah sebuah pilihan untuk berani menunda kesenangan-kesenangan kecil, dan berjuang untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi.

Jangan pernah terjebak dengan kenyamanan sementara, yang kadang membuat kita merasa sudah puas, padahal bukan itu sebenarnya yang kita inginkan. Nikmati hasil sementaranya, tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya.

[Renungan] Tempayan Retak - Selalu Ada Sisi Baik Dari Kekurangan Kita


Seorang Ibu di Cina yang sudah tua memiliki 2 buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul di pundak dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela & selalu memuat air hingga penuh. Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal 1/2.

Selama 2 tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya 1 & 1/2 tempayan. Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak merasa malu & sedih akan kekurangannya, sebab hanya bisa memenuhi 1/2 dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu. "Aku malu, sebab Air selalu bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu."

Ibu itu tersenyum dan menjawab "Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada didapati di jalur yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu, dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu dengan air yang bocor dari tubuhmu.

Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja dirumah. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumahku tidak seindah sekarang, sebab tidak ada bunga."

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing, namun keretakan & kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama berwarna dan menyenangkan. Kita harus menerima setiap orang apa adanya, dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.

Kawan-kawan sesama tempayan yang retak, semoga hari-hari kalian selalu diisi dengan ucapan syukur. Jangan lupa mencium wanginya bunga-bunga di jalur kalian. Setiap orang pasti memiliki takdir masing-masing, sehingga perbuatan apapun itu pasti ada sisi baik walau dari kekurangan kita.


[Renungan] Pribadi To Do, To Have, atau To Be?

“Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain.” (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan  diri  untuk  mengumpulkan  (to  have).  Ada  yang  giat  mencari  makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting  tulang,  sampai  mengorbankan  banyak  hal,  tetap  tidak  menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi,  dua  tahun  berlalu,  tapi  bisnisnya  belum  menghasilkan  apa-apa. Tentu,  kondisi  ini  sangat  memprihatinkan.  Jay  Abraham,  pakar  motivasi  bidang keuangan  dan    marketing    pernah    berujar,  “Banyak  orang    mengatakan  berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah  bisnis.” Marilah  kita  menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya…,” katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?”

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum India.

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi.


[Renungan] Dendam Positif


Seorang perempuan muda, bekerja di sebuah salon kecantikan New York yg sering dikunjungi kalangan atas dan selebritis. Suatu hari dia terkagum-kagum melihat pakaian seorang pelanggan kaya. Rasa ingin tahunya langsung muncul. Ia pun bertanya spontan, “Dimana Ibu membelinya ya?”

Pelanggan kaya itu menatap dirinya dengan sikap dingin dan tatapan tajam. Dengan ketusnya menjawab,

“Untuk apa kamu tahu dimana membelinya? Seandainya saya katakan, kamu pun tak kan sanggup membelinya”

Mendengar kata hinaan itu, si pekerja salon itu melangkah pergi dengan wajah merah padam, perasaannya terluka, tapi batinnya berbicara,

“Saya berjanji suatu hari saya pasti akan mendapatkan semua seperti wanita kaya itu... Tidak akan pernah ada orang yang mengatakan seperti itu lagi pada saya.”

Beberapa tahun kemudian, terlihat di banyak koran, foto si pekerja itu bersama orang-orang top dunia, seperti Pangeran Charles, Putri Grace dari Monaco, Rose Kennedy, TC Cooke, dll. Si pekerja itu tidak lain adalah ESTEE LAUDER, salah satu wanita terkaya, dan pioner dalam industri kecantikan dunia. Kini produk2 kosmetiknya dengan merek nama dirinya telah merambah di semua belahan dunia.

Kalau kita hanya meratapi diri kita atas hinaan itu, kita hanya menyimpan dendam dan mengharapkan hal-hal buruk terjadi pada orang yang menghina kita sebagai pelampisan; itu namanya tidak arif. Itu tidak akan memberikan manfaat apa-apa, malah membawa kerugian dan tekanan batin untuk diri sendiri.

Lihatlah Estee Lauder, yang telah mengubah rasa dendamnya menjadi motivasi dirinya untuk meraih kesuksesan. Merespon hinaan dengan bersedih sama seperti memasukkan sampah dalam hati. Sampah yang busuk akan meracuni diri sendiri.

Sebaliknya merespon hinaan dengan pemakluman, pemaafan dan kelapangan dada berarti kearifan. Kearifan akan melapangkan dan melebarkan jalan bagi berkah, membuka pintu bagi kesuksesan.

Mari belajar bersyukur. Jadikan sebagai cermin bagi kita untuk merefleksi diri dan membangkitkan
semangat!


[Renungan] Jadilah Orang yang Luar Biasa

Orang yang biasa-biasa saja hanya akan menjadi orang rata-rata. Orang yang mau berbuat lebih, lebih baik, lebih rajin, lebih tekun, lebih maksimal, akan jadi orang yang luar biasa di atas rata-rata.

Hampir semua pencapaian di dunia sebenarnya bukan dilakukan oleh orang yang benar-benar hebat. Tapi, dilakukan oleh orang biasa yang mau menyisihkan waktunya lebih banyak daripada orang lain.

Saat orang lain sudah pulang istirahat di rumah, orang yang luar biasa menambahkan sedikit waktu untuk mengerjakan pekerjaan lebih banyak.

Saat rekan sepelatihan sudah kembali dari arena, atlet yang luar biasa menambahkan porsi latihannya sendiri untuk mempertajam kemampuannya.

Saat anak buah sudah menyelesaikan tugas-tugasnya dan beralih kepada kegiatan lain di luar kerja, seorang pimpinan akan menambah jam kerjanya untuk mengevaluasi dan menyusun strategi guna maksimalisasi hasil usahanya.

Begitulah, orang-orang luar biasa selalu berkata lagi dan lagi. Tambah dan tambahkan lagi. Ia akan bekerja ekstra, berdaya juang di atas rata-rata, dan selalu menambahkan usaha di setiap yang dilakukannya.

Konsistensinya untuk berbuat lebih dan lebih lagi akan membuka jalan bagi pencapaian dan pencapaian yang lebih banyak lagi.

Mari, terus kembangkan semangat berbuat lebih baik, lebih rajin, lebih tekun, lebih maksimal. Maka, hidup akan jauh lebih luar biasa!!


[Renungan] Melatih Kreatifitas


Kreativitas itu tidak bisa muncul sendiri, perlu dilatih, diasah dan dilakukan secara terus menerus. Kreativitas itu pekerjaan otak kanan seperti berimajinasi, membayangkan gambaran-gambaran baru, memvisualisasikan ide-ide spektakuler. Bahkan mengabaikan istilah tidak mungkin. Semuanya bersifat mungkin, kalau orang lain bisa melakukan, dirinya juga bisa melakukan juga. Kalau dalam imajinasi masih tergambar, suatu ketika bisa terwujud. Orang-orang Jepang adalah salah satu contoh orang yang memiliki kualitas mental tekun dan kreatif. Tekun karena mau melakukan satu pekerjaan sampai selesai, kreatif karena selalu mencari inovasi baru dari waktu ke waktu. Tidak heran kalau produk otomotif seperti motor dan mobil lahir dari tangan-tangan putera negeri Jepang.

Mengapa Jepang sampai memiliki mental seperti itu? Banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor alam cukup dominan, di sana tidak ada sawah, ladang, hutan yang hijau. Jangan harap bisa menanam singkong di Jepang. Gempa bumi pun menjadi langganan Jepang karena letak geografis negeri tersebut berada tepat di antara lempengan bumi. Tapi kondisi yang sulit tersebut memaksa mereka untuk berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Dan betul, jalan keluar ditemukan. Pikiran kita bekerja sesuai dengan program si empunya. Bila si empunya pikiran menyuruh untuk mencari solusi atas satu persoalan, jawaban atas persoalan tersebut segera ditemukan. Sebaliknya bila pikiran dibiarkan tidur dan “nganggur” tidak akan ada hasil apapun.

Dibandingankan dengan kita Indonesia yang hijau, subur, akan tetapi masih kalah bersaing dengan negara-negara lainnya. Terlepas dari alasan apapun dengan berbagai macam pembenarannya, kondisi di Indonesia seperti itu memunculkan sikap miskin kreativitas, tidak berani dengan risiko, comfort zone dan mencari aman. Paradigma yang muncul adalah lebih baik tetap dengan kebiasaan lama walaupun penuh dengan risiko buruk, tapi risiko itu sudah diketahui sejak lama. Orang malas resikonya tidak punya penghasilan banyak, tapi tetap malas karena risikonya sudah diketahui. Sementara untuk melompat keluar zona nyaman risikonya ada dua, gagal dan berhasil. Kalau berhasil tidak ada masalah baru, tapi kalau gagal ini yang repot. Sementara kegagalan di luar zona nyaman sama sekali belum diketahui risikonya akan seperti apa. Demikian kira-kira mengapa paradigma comfort zone senantiasa dipertahankan.

Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, bagaimana supaya bisa keluar dari zona nyaman? Bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan sungguh-sungguh memaksakan diri keluar dari kebiasaan lama sambil belajar. Ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa hidup ini harus berubah terus kalau ingin tetap survival dan selalu bisa menjawab tantangan yang muncul. Sementara cara kedua dengan tingkat risiko yang lumayan tinggi, bisa berhasil bila disikapi secara positif dan bisa juga gagal bila disikapi negatif.

Banyak contoh kasus orang-orang yang berhasil melampaui persoalannya. Hellen Keller misalnya, adalah contoh sukses dari orang yang buta dan tuli. Tapi mengapa dia berhasil menempuh pendidikan sampai tingkat Doktor dan menjadi orang yang memiliki kepedulian tinggi pada orang buta dan tuli. Thomas Alfa Edison yang tuli bisa menjadi tokoh besar dalam sains dan contoh-contoh konkret lainnya.

Tidak ada kaitan antara cacat fisik dengan kesuksesan. Kalau mereka yang cacat bisa sukses, mengapa kita yang memiliki struktur fisik yang normal dan kuat akan tetapi mudah menyerah. Di sinilah perbedaan mental baja dan mental kerupuk. Dan itu perlu latihan terus menerus untuk memiliki mental baja patang menyerah, apapun tantangan yang muncul bisa dihadapi dengan tekun dan kerja keras.

Lakukanlah dengan Tulus
Seorang tukang kayu tua sudah siap untuk pensiun. Dia memberitahukan rencananya pada kontraktor majikannya. Dia telah bertekad mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pembangun rumah agar dapat menikmati hari tuanya dengan lebih menyenangkan, bersama isteri dan keluarga besarnya. Memang dia sepenuhnya sadar bahwa dia akan kehilangan penghasilannya, tetapi dia sudah lelah, dia perlu istirahat.

Sang kontraktor sangat menyayangkan kepergian karyawannya yang baik ini, tetapi tidak berhasil membujuk agar orang tua ini tetap bekerja padanya. Akhirnya sang kontraktor meminta agar dia bersedia membangunkan sebuah rumah lagi sebagai perekat hubungan baik yang sudah terjalin demikian lama.

Tukang kayu itu dengan berat hati terpaksa menyanggupinya, tetapi nampak jelas bahwa hatinya tidak lagi ada pada tugasnya, dia mengerjakannya dengan asal jadi saja dan bahkan bahan yang digunakannyapun bermutu sangat rendah. Itu adalah cara yang kurang baik dalam mengakhiri karirnya.

Ketika tukang kayu itu telah menyelesaikan tugasnya dan kontraktor atasannya telah memeriksa rumah itu, diserahkannya kunci rumah kepada orang tua itu dan berkata: “Rumah ini milikmu, ini sebagai hadiah dan tanda terima kasihku padamu!”

Dia terperanjat! Sungguh memalukan! Kalau saja dia tahu bahwa dia sedang membangun rumahnya sendiri, tentu dia akan mengerjakannya dengan cara yang sangat berbeda. Sekarang dia terpaksa tinggal bersama keluarga dalam rumah bermutu rendah yang dibangun asal jadi.

Demikian pula dengan kita, kitapun membangun kehidupan kita dengan asal jadi, lebih banyak bereaksi negatif dari pada bertindak benar, selalu melakukan sesuatu bukan dengan cara yang terbaik. Dalam hal yang penting sekalipun kita tidak melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kemudian dengan terkejut kita terpaksa menghadapi situasi yang kita ciptakan sendiri, dan baru menyadari bahwa sekarang kita tinggal di dalam rumah yang tidak kita bangun dengan baik, kalau saja kita menyadarinya dari dahulu, kita pasti akan bertindak dengan cara yang sangat berbeda.

Sekarang anggaplah diri anda sebagai tukang kayu, pikirkan rumah anda, setiap kali anda menancapkan paku, memasang papan atau mendirikan tembok, bangunlah dengan bijak. Ini adalah satu-satunya kehidupan yang sedang anda bangun, kalaupun hanya tersisa satu hari saja lagi untuk anda jalani, seharusnya hari itu anda jalani dengan penuh syukur dan dengan perasaan bahagia.

“Kehidupan anda hari ini merupakan hasil dari sikap dan pilihan anda di masa lalu. Kehidupan anda esok hari merupakan hasil dari sikap dan pilihan yang anda buat hari ini.”



June 29, 2013

[Renungan] Bahagia & Sukses dengan 5 Hukum Penciptaan


Hukum sebab-akibat (hukum penciptaan) merupakan hukum alam yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk alam kehidupan ini. Bila diuraikan, hukum sebab-akibat dapat dirangkum menjadi 5 hukum alam yang saling berkaitan, yaitu :

1. Hukum Ketertarikan (Law of Attraction)

Sebagaimana telah diuraikan oleh Erbe Sentanu : Apa yang kita pikirkan dan rasakan (positif/negatif) akan menarik alam untuk mewujudkannya.

Bila kita merasa kekurangan (negatif), maka alam akan mewujudkan kekurangan tersebut. Demikian juga sebaliknya, bila kita merasa kelebihan maka alam akan mewujudkan kelebihan tersebut.


2. Hukum Menerima dan Memberi

Apa pun yang kita terima (positif maupun negatif), sebenarnya berasal dari apa yang telah kita berikan (positif maupun negatif). Semua yang kita terima selama ini, merupakan hasil pemberian kita sebelumnya. Kebaikan yang kita terima, karena kita telah memberi kebaikan pada alam (orang lain). Ilmu yang kita fahami (terima), karena kita telah memberi ilmu ke alam ini (ke orang lain).

Jadi berusalah “memberi” kalau kita ingin “menerima”.


3. Hukum Kesesuaian (Law of Compliances)

Apa yang terjadi di luar kita, sebetulnya PENCERMINAN dari apa yang terjadi di dalam diri kita. Dalam hidup ini kita akan berada dalam kondisi yang mencerminkan diri kita sendiri; kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang mencerminkan diri kita sendiri.

Oleh karena itu, kita harus mampu mengubah (meningkatkan) diri kita menjadi lebih positif dari sebelumnya dan lihatlah perubahan besar yang akan terjadi dalam hidup kita.


4. Hukum Pengisian

Apa pun yang kosong di alam ini, akan diisi oleh alam. Kosongkan (buanglah) hal-hal yang sudah tidak bemanfaat lagi, maka alam akan mengisinya kembali dengan hal-hal baru yang bermanfaat bagi kita.


5. Hukum Pertumbuhan

Apa pun yang kita kerjakan, semakin lama imbalannya kita terima, semakin besar imbalan tsb; karena akan ditumbuhkan oleh alam.


Oleh karena itu, jangan pernah lelah berusaha keras mewujudkan impian anda. Jangan pernah lelah memperbaiki/meningkatkan diri. Jangan pernah merasa sia-sia melakukan sesuatu yang benar dan baik.

Semua yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik, bila kita telah berusaha semaksimal mungkin; dan tentu saja bila kita mampu mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya, serta ikhlas menerima semua yang terjadi (negatif maupun positif).

June 28, 2013

[Renungan] Kerja Efektif


So little time, so many to do. Mungkin hal ini sudah jadi hal rutin Anda alami dalam pekerjaan. Pekerjaan Anda terlalu banyak, sementara jam kerja terasa tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan maksimal. Bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan Anda dengan hasil yang sempurna adalah hal yang diharapkan dari Anda sebagai seorang profesional. Tetapi, terkadang ada saat ketika Anda merasa kewalahan untuk mengatur waktu kerja Anda. Berikut adalah tips praktis manajemen yang bisa Anda terapkan agar di masa yang akan datang, Anda bisa bekerja dengan lebih efektif dan produktif.

1.     Catat aktifitas Anda.

    Buat jurnal yang mencatat setiap aktifitas Anda dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Buat sedetail mungkin dan jujur. Buat jurnal aktifitas setiap hari paling tidak selama satu minggu.

2.     Analisa aktifitas Anda.

    Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memilah aktifitas yang memang menjadi tugas Anda dan seharusnya tidak Anda lakukan. Analisa prioritas untuk tiap aktifitas Anda; aktifitas mana yang bisa didelegasikan, aktifitas yang memakan waktu lama, aktifitas yang tidak produktif dan lain sebagainya.

3.     Lihat kembali job description Anda.

    Apakah aktifitas kerja Anda sehari-hari sesuai dengan job description Anda? Apabila ternyata pekerjaan Anda selama ini telah melenceng jauh dari deskripsi kerja Anda, maka segeralah diskusikan hal ini kepada atasan Anda. Memahami tugas dan tanggung jawab Anda sebagai seorang professional adalah dasar untuk mengelola waktu Anda dengan efektif.

4.     Tuliskan target pencapaian Anda untuk perhari, perminggu, perbulan atau bahkan pertahun.

    Daftar target dalam bentuk tertulis membantu Anda untuk menyusun rencana dan strategi yang harus Anda jalankan untuk meraihnya. Selain itu, daftar ini akan jadi pemacu dan pengingat tentang target Anda.

5.     Mengurangi atau bahkan menghilangkan aktifitas yang tidak dalam top priority. 

    Dengan jurnal yang dengan detail memuat jenis aktifitas, prioritas dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, singkirkan aktifitas yang tidak perlu dikerjakan di kantor. Dengan demikian Anda mempunyai waktu lebih untuk mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan deskripsi kerja Anda.

6.     Buat daftar pekerjaan yang harus Anda kerjakan setiap hari.

    Memang terlihat sederhana, namun daftar ini membantu Anda untuk disiplin mengerjakan pekerjaan Anda tiap hari.


Akan selalu ada hambatan dalam menjalankan strategi manajeman waktu seperti ini. Terkadang Anda melewatkan tenggat, atau tidak mendapatkan dukungan dari rekan sekerja, namun ingatlah bahwa Anda bertanggung jawab atas hasil kerja Anda. Seiring berjalannya waktu, jika Anda konsisten dengan rencana kerja Anda dan strategi ini, pada akhirnya Anda akan terbiasa dan mahir mengelola waktu kerja Anda, sehingga tidak pernah lagi ada keluhan ´terlalu banyak pekerjaan tapi terlalu sedikit waktu´.

Remember! : Setiap orang memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Yang membedakan antara yang sukses dan yang gagal adalah cara mereka memanfaatkan waktu. Jadi hitunglah dan gunakanlah waktu Anda dengan maksimal.



June 27, 2013

[Renungan] Kaizen, Prinsip Kerja ala Jepang


Pernah dengar kata ini, "kaizen teian" (bahasa Jepang)? Ini bukan merek motor...! Bukan pula jurus ilmu bela diri. Tapi, ini nama sebuah prinsip kerja yang LUAR BIASA! Para karyawan Jepang menganut prinsip ini sejak dahulu. Hasilnya? Saat ini, Jepang terkenal sebagai negara yang powerful dalam berbagai sisi - khususnya dalam sisi ekonomi.

"Kaizen" berarti "perbaikan terus-menerus", sementara "teian" artinya "sistem". Jadi, Kaizen Teian artinya sistem perusahaan yang luas, untuk perbaikan terus menerus, sehingga bisa membawa napas baru dalam setiap perusahaan/organisasi.

Tahukah Anda, banyak pemimpin perusahaan/manajer yang merasa sudah puas dengan sistem perusahaannya, yang dirasakan sudah berjalan dengan baik. Para pemimpin dan manajer itu berpikir, "Kalau sistem perusahaan saya tidak rusak, mengapa harus diganti dengan yang baru? Untuk saat ini, kita cukup bekerja dengan mengikuti arus saja!". Nah, menurut Kaizen, perubahan zaman terjadi setiap saat. Kita perlu melakukan inovasi (secara proporsional dan profesional) untuk beradaptasi dengannya.

Penerapan Kaizen

Dalam menerapkan Kaizen, para pemimpin perusahaan/organisasi di Jepang berpegang pada dua prinsip. Pertama, perlu proses atau cara kerja yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan proses atau cara kerja demikian, kita bisa bekerja lebih cekatan (bukan bekerja lebih berat).

Untuk mendapatkan proses yang baik, para pemimpin perusahaan perlu mengetahui sumber masalah-masalah, kemudian meminta ide/gagasan/solusi dari semua karyawannya. Bagaimanapun juga, merekalah yang menjalani pekerjaan sehari-hari/dekat dengan pekerjaannya. Biasanya, solusi terbaik adalah solusi yang paling sederhana, logis, dan mudah dilaksanakan. Kedua, memilih gagasan-gagasan yang bisa dilaksanakan, "mengeksekusinya", dan bersabar menunggu hasilnya.

Tahukah Anda, perusahaan otomotif raksasa, Toyota, menerima 2 juta ide per tahun, dari para karyawannya! Sebanyak 80% berhasil dilaksanakan. Ternyata, satu perbaikan kecil dapat menghasilkan akibat yang besar! Waktu dan uang dapat dihemat. Para karyawan pun semakin bersemangat kerja, karena mereka melihat ide-ide mereka diterima dan dilaksanakan oleh perusahaan.

Hasil Penerapan Kaizen

Wah, tampaknya Kaizen memang sangat menarik! Apakah kita bisa segera mendapatkan hasilnya? TIDAK. Hasil dari perbaikan terus menerus ala Kaizen tidak dapat Anda dapatkan dalam waktu semalam. Untuk mendapatkan hasil maksimal, Anda sebaiknya menggunakan model spesifik Kaizen yang tepat untuk perusahaan/organisasi Anda, serta mau menjalani proses bertahap.

Dalam proses itu, antara lain, para pimpinan dan manajer harus mampu menetapkan dan menjalankan suatu standar, serta mengontrol kualitas. Mereka juga harus mau mendengarkan ide/saran, berusaha memberikan feed back yang membangun, sekaligus terus memotivasi karyawannya!


[Renungan] Giving your best in the workplace

 Sebagai seorang karyawan andalah yang bertanggung jawab penuh atas karir anda dan seberapa cepat peningkatan yang anda akan raih. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat anda praktekkan untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas anda yang akan mempengaruhi peningkatan kemampuan anda.
 
Bekerja dengan lebih cepat
Kembangkan senantiasa perasaan terdesak (sense of urgency) untuk apapun yang ingin anda kerjakan atau lakukan. Bertindaklah segera, lakukan pada waktunya, jangan biasakan menunda pekerjaan anda agar tugas-tugas anda tidak menumpuk. Orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan lebih cepat akan jauh lebih maju dari orang-orang yang suka menunda.

Lakukan lebih banyak hal yang penting
Oleh karena anda hanya mempunyai jumlah jam yang tertentu setiap hari maka pastikan anda menghabiskan setiap menit untuk melakukan hal-hal yang berharga bagi anda dan perusahaan bukan hal-hal lainnya. Hindari fokus pada pekerjaan yang berprioritas rendah karena itu cuma mendatangkan output yang rendah pula.

Kerjakan lebih dari yang diharapkan 
Banyak orang memiliki pandangan bahwa mereka cukup mengerjakan sesuai dengan yang sesuai kewajiban kita. Kalau kita ingin segera meningkat dan mendapatkan pengetahuan yang banyak maka usahakan selalu untuk mengerjakan tugas kita lebih dari yang diharapkan, karena kita selalu akan bermanfaat atas apa yang kita lakukan terlebih dahulu bukan sebaliknya.

Berikan perhatian pada hal detail
Perhatian anda pada hal-hal detail akan membawa anda semakin menonjol dalam pekerjaan karena mungkin tidak semua orang akan memperhatikan apa yang seharusnya dibenahi atau ditindaklanjuti.

Jadilah ahli di bidang yang Anda kerjakan
Semakin ahli anda di bidang pekerjaan yang anda tekuni maka semakin mahal nilai anda. Terus fokus kembangkan keahlian anda secara konsisten karena ini akan berpengaruh pada perkembangan anda.

Jadilah problem solver
Kita perlu menyadari selalu bahwa kita diharapkan untuk memecahkan masalah dalam tempat kerja bukan menjadi pembuat masalah. Setiap orang cuma akan diingat dari masalah yang dipecahkannya atau masalah yang diciptakannya. Ketika kita mampu memecahkan masalah yang lebih besar maka kita akan segera mendapatkan penilaian yang lebih besar.

[Renungan] Lingkungan Kita adalah Pikiran Kita

Suatu ketika seorang pria menelepon Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih.Tidak ada lagi yang dimilikinya dalam hidup ini. Norman mengundang pria itu untuk datang ke kantornya.

“Semuanya telah hilang. Tak ada harapan lagi,” kata pria itu.

“Aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini”. Norman Vincent Peale, penulis buku “The Power of Positive Thinking”, tersenyum penuh simpati.

“Mari kita pelajari keadaan anda,” katanya Norman dengan lembut.

Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih tersisa.

“Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan,” kata pria itu tetap dalam kesedihan. “Aku sudah tak punya apa-apa lagi.”

“Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?” tanya Norman.

“Hei, apa maksudmu? Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!” “Kalau begitu bagus sekali,” sahut Norman penuh antusias.

“Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan “Istri yang amat mencintai”.

“Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?”

“Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!”

“Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan “Anak-anak tidak berada dalam penjara.” kata Norman sambil menuliskannya di atas kertas tadi.

Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menangkap apa maksud Norman dan tertawa pada diri sendiri.

“Menggelikan sekali. Betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir dengan cara seperti itu,” katanya.

Kata orang bijak, bagi hati yang sedih lagu yang riang pun terdengar memilukan. Sedangkan orang bijak lain berkata, sekali pikiran negatif terlintas di pikiran, duniapun akan terjungkir balik. Maka mulailah hari dengan selalu berfikir positif.

Tuliskanlah hal-hal positif yang Kita pernah dan sedang miliki dalam hidup ini, bebaskan pikiran-pikiran kita dari hal-hal negatif yang hanya akan menyedot energi negatif dari luar diri kita. Dengan berfikir positif kehidupan ini akan terasa amat indah dan tidaklah sekejam yang kita bayangkan. Objek-objek yang berada di sekitar kita akan sangatlah tergantung dari bagaimana cara kita memandang dan mempersepsikannya. Lingkungan Kita adalah Pikiran Kita. Lingkungan akan berbuat positif kepada Kita jika Kita mempersepsikannya baik, sebaliknya Lingkungan akan berbuat negatif kepada kita ketika kita mempersepsikan sebaliknya.


[Renungan] CIPTAKAN MASA DEPAN ANDA


Kita hidup dalam 3 frame waktu yaitu: past, present, future (masa lalu, masa kini dan masa depan). Masa lalu adalah masa yang sudah lewat dan tidak dapat diulang ataupun digantikan. Masa lalu Anda mungkin berisi momen-momen keberhasilan ataupun momen-momen kegagalan, berbagai pengalaman indah ataupun pengalaman buruk.

Masa depan adalah masa yang akan datang, sesuatu yang Anda dan saya mungkin belum ketahui apa yang akan terjadi. Namun masa depan juga adalah masa dimana kita dapat meraih sesuatu yang berbeda dari masa sebelumnya. Masa kini adalah masa yang akan menentukan masa depan Anda. Masa kini merupakan kesempatan untuk berubah dan melakukan persiapan agar dapat menciptakan masa depan yang Anda inginkan.

Ironisnya masih banyak orang yang hidup hari ini dengan penyesalan terhadap masa lalu mereka dan kekhawatiran akan masa depan, sehingga mereka lupa untuk menghidupi dan menikmati masa sekarang. Kita lebih sering menghabiskan waktu untuk menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan daripada mempersiapkannya. Bila Anda sering melihat ke belakang, Anda akan segera menuju ke sana. Berhentilah melihat ke arah yang sudah Anda lalui dan mulailah mengarah kepada tujuan Anda. Tujuan dan pencapaian dalam hidup Anda selalu menuju ke depan, tidak pernah menuju ke belakang. Ketahuilah tidak ada masa depan di penyesalan masa lalu Anda.

Buatlah suatu peraturan dalam hidup Anda untuk tidak lagi menyesali masa lalu dan tidak pernah lihat ke belakang. Penyesalan hanya akan menguras energi yang Anda butuhkan untuk pencapaian di masa depan. Anda tidak dapat membangun sesuatu di atas penyesalan, kemungkinannya malah Anda yang menjadi tenggelam.

Masa lalu akan selalu seperti yang Anda tinggalkan. Berhentilah untuk mencoba mengubahnya. Masa depan berisi lebih banyak kesempatan-kesempatan yang dapat diraih daripada penyesalan Anda akan masa lalu. Percayalah bahwa yang terbaik akan datang.

Semakin Anda melihat ke belakang, maka semakin berkurang kemajuan yang Anda capai. Itulah sebabnya mari kita lebih suka membayangkan masa depan daripada masa lalu. Anda tidak dapat memiliki masa depan yang lebih baik apabila Anda terus-menerus memikirkan masa lalu. Masa lalu Anda tidak sepadan dengan masa depan Anda.

Mungkin kita setuju dengan nasihat Laura Parlmer yang berkata, "Jangan sia-siakan hari ini dengan menyesali masa lalu dan bukannya menciptakan kenangan hari esok." Masa lalu Anda tidak dapat diubah, namun Anda dapat mengubah masa depan Anda dengan tindakan Anda hari ini. Jadi segeralah menciptakan masa depan Anda sekarang.


[Renungan] Cobalah untuk Menikmati Hidup

 Seorang dosen memberikan kuliah tentang manajemen stres. Ia mengangkat sebuah gelas berisikan air dan bertanya pada mahasiswanya, ”Menurut kalian, berapa berat air dalam gelas ini?”

Setiap mahasiswa menyebutkan angka yang berbeda-beda.

Lalu sang dosen berkata lagi, ”Berapa berat yang pasti tidaklah penting. Karena hal itu bergantung pada berapa lama kita memegangnya. Jika saya memegangnya selama semenit, tidak masalah. Kalau saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan kram. Dan jika saya memegangnya seharian, mungkin kita harus dibawa ke rumah sakit. Padahal beratnya sama saja, tapi semakin lama kita memegangnya, gelas air itu akan terasa semakin berat.

”Begitu pula dalam hidup ini. Jika kita menanggung beban-beban hidup (bisa berupa kekecewaan, kegagalan, kekalahan, kesedihan, dukacita, dll) sepanjang waktu, cepat atau lambat, kita taidk kan mampu bertahan. Karena beban itu lama-kelamaan akan makin terasa berat. Karena itu, yang perlu kita lakukan adalah menaruh gelasnya, beristirahat sebentar sebelum kembali memegangnya.”

Sama halnya dengan gelas air tersebut, kita perlu meletakkan beban-beban hidup kita pada waktu-waktu tertentu, sehingga kita bisa merasa segar lagi dan mampu mengangkat beban itu kembali.

Jadi, sebelum kita pulang ke rumah dari pekerjaan atau segala aktivitas kita selama seharian penuh, letakkan sejenak beban kerja dan hidup kita. Jangan membawa beban itu ke dalam rumah. Tinggalkan itu di luar rumah. Esok pagi, saat tubuh kita sudah terasa segar kembali, kita bisa mengambil beban itu lagi.

Cobalah untuk beristirahat dan bersantai. Nikmatilah hidup ini! Karena pada akhirnya yang paling penting adalah seberapa baik kita menjalani hidup, mencintai, dan belajar untuk melepaskan beban dalam hidup.